Khamis, 21 Mac 2013

Bakal Calon Anggota DPRD di Riau Tertangkap Nyontek saat Tes Kejiwaan

Bakal Calon Anggota DPRD di Riau Tertangkap Nyontek saat Tes Kejiwaan

Bakal Calon Anggota DPRD di Riau Tertangkap Nyontek saat Tes Kejiwaan
TES KEJIWAAN: Bakal calon legislatif Riau beramai-ramai tes kesehatan jiwa di RSJ Tampan Pekanbaru, Rabu (20/3/2013).


Laporan Syahrul Mukhlis, Pekanbaru
TINDAKAN tidak terpuji dilakukan bakal calon legislatif (Bacaleg) yang akan bertarung pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, saat tes tertulis kesehatan kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan, Pekanbaru, Rabu (20/3). Sebanyak 15 orang dari sekitar 200-an Bacaleg asal Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) yang mengikuti tes hari itu, tertangkap mencontek kunci jawaban saat tes tertulis. Kunci jawaban itu disimpan dalam bentuk kertas kecil atau dicatat di dalam handpone.
Kunci jawaban yang diduga palsu juga beredar ke banyak peserta tes, bahkan peserta pada hari sebelumnya. Karena mencotek kunci jawaban palsu ini hasilnya tentu mengejutkan panitia. Karena hasil tes mereka di luar perkiraan.

Untuk diketahui, tes tertulis berisikan sekitar 500 lebih pertanyaan yang terdapat dua pilihan jawaban ‘’Ya’’ atau ‘’Tidak’’. Tes ini masih terus berlangsung hingga 14 April mendatang dengan jadwal berbeda masing-masing daerah. Hasil tes dikeluarkan pada hari yang sama dengan bentuk selembar keterangan yang memuat dua hasil, peserta tes mengalami atau tidak gangguan kesehatan jiwa. Mungkin hasil di luar perkiraan ini yang mengejutkan panitia sehingga lama memberikan rekomendasi untuk sesi lanjutan, teswawancara.

Karena, terungkap beredarnya kunci jawaban itu bermula sebelum tes wawancara dilakukan. Sekitar pukul 11.10 WIB, beberapa peserta tes protes, karena hasil tes tertulisnya terlambat diantarkan dari bagian tes tertulis ke bagian tes wawancara. Akibatnya, setelah beberapa lama menunggu, peserta tidak kunjung mengikuti tes wawancara.

Menduga ada yang tidak beres dengan pekerjaan panitia, belasan peserta tes ribut. Mereka bersama-sama menanyakan mengapa belum bisa menjalani tes wawancara, padahal mereka sudah lama selesai tes tertulis.

Keterlambatan ini rupanya karena adanya kunci jawaban yang tertangkap oleh panitia. Dua petugas loket tes wawancara yang tidak mau sebutkan namanya membenarkan hal itu. ‘’Mereka protes dan menyalahkan kami. Menurut mereka kami yang lambat. Tapi setelah ditelusuri mengapa berkas mereka lambat sampai ke kami, ternyata mereka diduga menggunakan kunci jawaban yang beredar sehingga banyak yang salah,’’ kata petugas yang menggunakan seragam Pegawai Negeri Sipil tersebut.

Tes tertulis kesehatan jiwa berkaitan erat dengan tes wawancara. Dalam arti, tes tertulis akan menjadi materi penting untuk tes wawancara. Sehingga jika tidak sinkron melakukan pengisian tes tertulis dengan kepribadian masing-masing, akan mempengaruhi besar saat wawancara sehingga hasil tes kesehatan jiwa bisa diasumsikan mengalami gangguan jiwa.

Kabid Penunjang Medik RSJ Tampan, Ardianus Bahar yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pemeriksaan Kesehatan Kejiwaan Bacaleg mengatakan, mereka menangkap kunci jawaban tersebut. ‘’Memang saat tes tertulis panitia menangkap kunci jawaban dari 15 peserta. Tapi kunci jawaban itu menyesatkan atau salah,’’ kata Ardianus.

Ardianus mengatakan, berdasarkan informasi yang mereka dapatkan dari pengguna kunci jawaban itu, kunci jawaban beredar antara sesama peserta tes.

‘’Hari ini (kemarin, red) pesertanya dari Kabupaten Rohul, kunci jawaban yang menyesatkan itu didapatkan dari rekan-rekan mereka juga,’’ kata Ardianus Bahar.

Soal bagaimana selanjutnya proses terhadap peserta yang menggunakan kunci jawaban tersebut, Adrianus mengatakan tidak ada masalah bagi panitia. ‘’Panitia menangkap dalam ruangan ketika tes tertulis. Selanjutnya peserta itu juga ikut tes wawancara. Grafik atas jawaban tertulis dan wawancara itu urusan Psikiater. Tentunya psikiater mengetahui apabila jawaban tidak sesuai antara wawancara dengan tertulisnya,’’ kata Ardianus.

Dikatakan Ardianus juga, bahwa peserta juga masih bisa ikut tes ulang, karena pada dasarnya tes kejiwaan tersebut bukanlah tes untuk lulus atau tidak.

‘’Ini bukan tes untuk lulus perguruan tinggi terkenal. Jadi bukan masalah lulus atau tidak lulus. Tapi untuk peta diri bagi peserta,’’ kata Ardianus.

Disebutkan Ardianus, sejak dilaksanakannya tes kejiwaan di RSJ, memang sudah beberapa kali panitia menangkap kunci jawaban, namun pada hari jadwal tes untuk Bacaleg dari Kabupaten Rohul lebih banyak.

‘’Sebelumnya juga sudah terpantau oleh kami dan kami amankan, tapi hari ini paling banyak kami temukan kunci jawaban beredar saat tes tertulis,’’ kata Ardianus.

Ardianus mengimbau kepada calon peserta selanjutnya untuk mengikuti tes sesuai prosedur. ‘’Jika jawaban orang lain, itu berarti bukan jawaban dari peserta sendiri. Pesertanya juga yang rugi. Psikiater juga mengetahui mana jawaban yang sesuai dengan saat wawancara jadi tidak ada gunanya kunci jawaban dari orang lain,’’ kata Ardianus.

Beberapa peserta tes kemarin seperti Frangki dari PAN Rokan Hulu dan Bunyana dari Golkar Kampar mengaku sempat mendengar ada kunci jawaban yang beredar. ‘’Saya sempat mendengar ada kunci jawaban, tapi saja menjalani tes sesuai dengan jawaban dari diri saya sendiri,’’ kata Frangki.

Sementara Bunyana mengatakan dari mental sebagai calon pemimpin, ia tidak akan menggunakan jawaban dari orang lain. ‘’Bagaimana saya akan mewakili rakyat kalau baru pada tahap tes saja sudah menggunakan jawaban orang lain,’’ kata Bunyana.

Terkait hal ini, pengamat politik, Andi Yusran mengatakan, partai harus mengawasi kadernya. Partai harus mengedepankan integritas calon.

‘’Partai harus berperan, SDM calonnya harus diperhatikan dan diawasi, jangan sampai ada lagi ijazah palsu, tes pakai kunci jawaban. Setelah terpilih pun partai harus mengawasi dan terus membina kadernya. Intinya partai harus tegas sehingga tidak membuka ruang bagi kader untuk berperilaku negatif,’’ kata Andi Yusran.

Di tempat terpisah, menanggapi kasu ini, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Riau H Azis Zaenal SH MM mengatakan tindakan tersebut sudah mengajarkan masyarakat hal yang tidak baik. ‘’Seharusnya di awal berdemokrasi, peserta yang ikut Pileg ini tidak mengajarkan masyarakat yang tidak baik. Kunci jawaban itu menyesatkan,’’ kata Aziz.

Azis mengimbau kepada anggota masyarakat yang ikut tes tidak terpengaruh dengan kunci jawaban manapun. ‘’Kader PPP jangan sampai berbuat demikian karena sangat merugikan,’’ kata Azis.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Politik DPP Golkar Riau, Eddy Akhmad RM mengatakan seharusnya penyelenggara harus tegas terhadap tindakan itu. ‘’Kalau perlu, penyelenggara tidak menerbitkan keterangan kesehatan rohani atau kejiwaan terhadap pelaku kecurangan itu,’’ kata Eddy.

Kepada kader Golkar, Eddy mengingatkanm agar tidak menggunakan kunci jawaban. ‘’Mereka yang menggunakan kunci jawaban itu adalah orang yang tidak percaya diri bahwa mereka normal. Untuk kader Golkar, jangan sampai merugikan diri sendiri,’’ ujar Eddy.

Sementara, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Politik DPW PAN Riau, Fendri Jaswir mengatakan, pihaknya sudah mengingatkan agar kader partainya untuk bersikap jujur. ‘’Setiap calon dari PAN harus mengikuti aturan dari KPU, jangan ada penyimpangan atau bersikap curang. Itu merugikan diri sendiri dan tidak menggambarkan kondisi kejiwaan kader,’’ kata Fendri.

Ketua KPU Riau, Tengku Edi Sably mengatakan tes kejiawaan merupakan rangkaian yang harus dilakui Bacaleg sesuai undang-undang. ‘’Syarat sehat jasmani dan rohani itu sesuai undang-undang. Jadi dalam prosesnya pun harus benar-benar sehat jasmani dan rohani dengan dibuktikan oleh pihak berwenang untuk menyatakan itu,’’ kata Edi.

Soal adanya kunci jawaban yang diguanakan dalam tes di RSJ oleh beberapa oknum peserta tes, Edi mengatakan bahwa itu tidak pantas. ‘’Memang proses tesnya bukan wewenang KPU, namun tentunya kemurnian hasil tes merupakan bagian dari syarat sesuai undang-undang tersebut

Tiada ulasan:

Catat Ulasan